Karena beberapa faktor yang menuntut untuk segera mengebumikan jenazah, maka sangat rentan terjadi pemakaman mayit sebelum disholati, sehingga memicu para pentakziyah yang tergerak untuk mensholati melakukan sholat di atas kuburan sesudah prosesi pemakaman. Atau juga mungkin terjadi praktik sholat di atas kuburan yang dipicu karena jarak tempuh pentakziyah yang begitu jauh sehingga tidak sempat untuk melakukan sholat sebelum prosesi pemakaman.
Dapatkah dibenarakan melakukan sholat di atas kuburan?
Jawaban:
Pada dasarnya ketentuan yang telah ditetapkan oleh syariat adalah wajib mendahulukan mensholati mayit sebelum dikebumikan, sehingga diangap dosa ketika sengaja mengebumikan mayit sebelum mensholatinya, namun ketentuan ini bukan berarti menjadikan tidak diperbolehkan dan tidak sahnya sholat di atas kubur, Rosululloh saw sendiri pun juga pernah melakukanya, juga karena kewajiban mendahulukan sholat sebelum mengebumikan mayit bukan merupakan syarat sahnya sholat janazah. Sehingga dalam beberapa permasalahan di atas yang memicu terjadinya praktek sholat di atas kuburan diperbolehkan dan juga dianggap sah.
حاشيتا قليوبي وعميرة - (ج 4 / ص 392)
( وَيَجِبُ تَقْدِيمُهَا ) أَيْ الصَّلَاةِ .( عَلَى الدَّفْنِ ) فَإِنْ دُفِنَ قَبْلَهَا أَتَمَّ الدَّافِنُونَ وَصَلَّى عَلَى الْقَبْرِ كَمَا قَالَ .( وَتَصِحُّ بَعْدَهُ ) أَيْ بَعْدَ الدَّفْنِ عَلَى الْقَبْرِ سَوَاءٌ دُفِنَ قَبْلَهَا أَمْ بَعْدَهَا ، وَقَدْ تَقَدَّمَ حَدِيثُ صَلَاتِهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَلَى الْقَبْرِ .( وَالْأَصَحُّ تَخْصِيصُ الصِّحَّةِ بِمَنْ كَانَ مِنْ أَهْلِ فَرْضِهَا وَقْتَ الْمَوْتِ ) وَالثَّانِي بِمَنْ كَانَ مِنْ أَهْلِ الصَّلَاةِ وَقْتَ الْمَوْتِ ، فَمَنْ كَانَ وَقْتُهُ غَيْرَ مُمَيِّزٍ لَا تَصِحُّ صَلَاتُهُ قَطْعًا وَمَنْ كَانَ وَقْتُهُ مُمَيِّزًا لَا تَصِحُّ صَلَاتُهُ عَلَى الْأَوَّلِ ، وَتَصِحُّ عَلَى الثَّانِي ، وَإِلَى مَتَى يُصَلَّى عَلَى الْقَبْرِ قِيلَ إلَى ثَلَاثَةِ أَيَّامٍ ، وَقِيلَ إلَى شَهْرٍ ، وَقِيلَ مَا بَقِيَ شَيْءٌ مِنْ الْمَيِّتِ ، وَقِيلَ أَبَدًا
حاشية البجيرمي على الخطيب - (ج 6 / ص 93)
قَوْلُهُ : ( وَيَجِبُ تَقْدِيمُهَا عَلَى الدَّفْنِ ) فَإِنْ دُفِنَ قَبْلَهَا أَثِمَ الدَّافِنُونَ وَصُلِّيَ عَلَى الْقَبْرِ شَرْحُ الْمَنْهَجِ وَلَا يُنْبَشُ ؛ فَوُجُوبُ تَقْدِيمِهَا عَلَى الدَّفْنِ لَيْسَ لِأَنَّهُ شَرْطُ صِحَّةٍ .
Tidak ada komentar:
Posting Komentar