Bagaimana hukum mengaqiqohi anak
yang sudah meninggal yang belum sempat di-aqiqohi ketika hidupnya?
Jawaban:
Bagi
orang tua diperkenankan melakukan aqiqoh dengan syarat:
a. Orang
tua mampu melakukan aqiqoh (sebelum anak tersebut meninggal dunia), baik
meninggal setelah atau sebelum hari ketuju (7) dari kelahiran.
b. Anak
yang meninggal tersebut belum mencapai umur baligh.
Uraian
Jawaban:
Aqiqoh
adalah binatang yang disembelih untuk anak yang dilahirkan pada hari ke tujuh
dari kelahiran. Hukum asal aqiqoh adalah Sunnah Muakkad (sangat
disunnahkan). Namun ِaqiqoh
menjadi wajib jika dinadzari.
Kesunahan
aqiqoh ini didasarkan hadis Nabi saw:
"الْغُلَامُ
مُرْتَهَنٌ بِعَقِيقَتِهِ تُذْبَحُ عَنْهُ يَوْمَ السَّابِعِ وَيُحْلَقُ رَأْسُهُ
وَيُسَمَّى" (رواه الترمذي)
“Setiap anak yang
dilahirkan itu “tergadai dengan aqiqohnya”, sehingga dihari ketuju dari
kelahirannya aqiqoh disembelih, dicukur rambutnya dan diberi nama”.
(HR. Tutmudzi)
Maksud dari “tergadai
dengan aqiqohnya”, menurut Imam Ahmad bin Hambal adalah bahwa anak yang
dilahirkan jika tidak di-aqiqohi )padahal
orang tua mampu), maka anak tersebut tidak akan diberi izin Allah untuk memberi
syafaat (pertolongan) pada kedua orang tuanya.
Sedangkan
menurut Imam Ibnu Qoyyim maksud hadis Nabi saw “tergadai dengan
aqiqohnya”, adalah aqiqoh menjadi
sebab (tebusan) terbebasnya anak yang dilahirkan dari cengkeraman syetan,
sehingga akhirnya anak tersebut akan ringan untuk berbuat kebaikan demi
keselamatan akhiratnya.
وقَالَ اِبْنُ الْقَيِّمِ وَالأَوْلَى اَنْ
يُقَالَ اَنَّ العَقِيْقَةَ سَبَبٌ
لِفَكِّ رَهَانِهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الَّذِي تَعَلَّقَ بِهِ مِنْ حِيْنِ
خُرُوْجِهِ اِلىَ الدُّنْيَا وطَعْنِهِ فِيْ خَاصِرَتِه فَكَانَتْ العَقِيْقَةُ
فِدَاءً وَتَخْلِيْصًا لَهُ مِنْ حَبْسِ الشَّيْطَانِ لَهُ فِىْ اَسْرِهِ
وَمَنْعِهِ لَهُ مِنْ سَعْيِهِ اِلىَ مَصَالِحِ اَخِرَتِهِ.(الترمشى الجزء الرابع
ص: 706 )
“Ibnu Qoyim
berkata ; “Aqiqoh menjadi penyebab terbebasnya anak dari belenggu setan yang
mengikutinya dikala anak tersebut lahir kedunia , Dengan demikian jelaslah
kiranya bahwa diantara fungsi aqiqoh adalah sebagai tebusan serta membebaskan
anak yang dilahirkan dari belenggu setan yang selalu ingin mencegah anak
tersebut untuk berbuat kebaikan menuju kebahagiaan akhiratnya”.
Menurut para
Ulama , kesunahan
aqiqoh bagi orang tua ini tidak tertentu ketika anak masih hidup saja, namun
ketika anak sudah meninggalpun orang tua masih disunahkan mengaqiqohi dengan
syarat:
a. Orang
tuanya mampu melakukan aqiqoh (sebelum anak tersebut meninggal dunia), baik
meninggal setelah atau sebelum hari ketuju (7) dari kelahiran menurut pendapat
Mu’tamad.
b. Anak yang
meninggal tersebut belum mencapai umur baligh. Karena setelah baligh, yang
dianjurkan melakukan aqiqah adalah anak itu sendiri.
Keterangan;
1. Tarmasyi
Juz 4 hal; 706.
2. Asnal
Matholib Juz; 1 hal; 550
ويسن أن يعق عمن مات بعد التمكن من الذبح وان مات قبل السابع اي
علي المعتمد (بعد التمكن من الذبح) بخلاف موته قبل التمكن من الذبح لا يسن العق
عنه.
Disunatkan mengaqiqohi anak yang telah
wafat (setelah lahir) jika orang tuanya mampu mengaqiqohinya (sebelum wafat),
meskipun wafatnya anak tersebut sebelum hari ketuju (7) dari kelahiran menurut
Qoul Mutamad, berbeda dengan meninggalnya anak sebelum orang tua mampu untuk
melakukan akikoh
.
(وَلَا تَفُوتُ عَلَى
الْوَلِيِّ) الْمُوسِرِ بِهَا (حَتَّى يَبْلُغَ) الْوَلَدُ (فَإِنْ بَلَغَ
فَحَسَنٌ أَنْ يَعُقَّ عَنْ نَفْسِهِ).
Dan kesunahan itu tidak hilang bagi
seorang wali yang mampu (kaya), sampai anak menginjak baligh. Seandainya sudah
baligh, maka akan baik dia mengaqiqohi dirinya sendiri”
Tidak ada komentar:
Posting Komentar