Blogroll

Hadirilah Pengajian Rutin Ahad Kliwon Dengan Acara: Doa Bersama, Tanya Jawab Agama Islam oleh LBM NU Kota Kediri dan Pengajian Umum di Masjid Agung Kota Kediri

Kamis, 16 Mei 2013

AQIQOH ANAK


Bagaimana hukum mengaqiqohi anak yang sudah meninggal yang belum sempat di-aqiqohi ketika hidupnya?
Jawaban:
Bagi orang tua diperkenankan melakukan aqiqoh dengan syarat:
a. Orang tua mampu melakukan aqiqoh (sebelum anak tersebut meninggal dunia), baik meninggal setelah atau sebelum hari ketuju (7) dari kelahiran.
b.   Anak yang meninggal tersebut belum mencapai umur baligh.
Uraian Jawaban:
Aqiqoh adalah binatang yang disembelih untuk anak yang dilahirkan pada hari ke tujuh dari kelahiran. Hukum asal aqiqoh adalah Sunnah Muakkad (sangat disunnahkan). Namun ِaqiqoh menjadi wajib jika dinadzari.
Kesunahan aqiqoh ini didasarkan hadis Nabi saw:

"الْغُلَامُ مُرْتَهَنٌ بِعَقِيقَتِهِ تُذْبَحُ عَنْهُ يَوْمَ السَّابِعِ وَيُحْلَقُ رَأْسُهُ وَيُسَمَّى" (رواه الترمذي)
“Setiap anak yang dilahirkan itu “tergadai dengan aqiqohnya”, sehingga dihari ketuju dari kelahirannya aqiqoh disembelih, dicukur  rambutnya dan diberi nama”. (HR. Tutmudzi)

Maksud dari “tergadai dengan aqiqohnya”, menurut Imam Ahmad bin Hambal adalah bahwa anak yang dilahirkan jika tidak di-aqiqohi )padahal orang tua mampu), maka anak tersebut tidak akan diberi izin Allah untuk memberi syafaat (pertolongan) pada kedua orang tuanya.
Sedangkan menurut Imam Ibnu Qoyyim maksud hadis Nabi saw “tergadai dengan aqiqohnya”, adalah aqiqoh  menjadi sebab (tebusan) terbebasnya anak yang dilahirkan dari cengkeraman syetan, sehingga akhirnya anak tersebut akan ringan untuk berbuat kebaikan demi keselamatan akhiratnya.

وقَالَ اِبْنُ الْقَيِّمِ وَالأَوْلَى اَنْ يُقَالَ  اَنَّ العَقِيْقَةَ سَبَبٌ لِفَكِّ رَهَانِهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الَّذِي تَعَلَّقَ بِهِ مِنْ حِيْنِ خُرُوْجِهِ اِلىَ الدُّنْيَا وطَعْنِهِ فِيْ خَاصِرَتِه فَكَانَتْ العَقِيْقَةُ فِدَاءً وَتَخْلِيْصًا لَهُ مِنْ حَبْسِ الشَّيْطَانِ لَهُ فِىْ اَسْرِهِ وَمَنْعِهِ لَهُ مِنْ سَعْيِهِ اِلىَ مَصَالِحِ اَخِرَتِهِ.(الترمشى الجزء الرابع ص: 706 )
  Ibnu Qoyim berkata ; “Aqiqoh menjadi penyebab terbebasnya anak dari belenggu setan yang mengikutinya dikala anak tersebut lahir kedunia , Dengan demikian jelaslah kiranya bahwa diantara fungsi aqiqoh adalah sebagai tebusan serta membebaskan anak yang dilahirkan dari belenggu setan yang selalu ingin mencegah anak tersebut untuk berbuat kebaikan menuju kebahagiaan akhiratnya”.

Menurut para Ulama , kesunahan aqiqoh bagi orang tua ini tidak tertentu ketika anak masih hidup saja, namun ketika anak sudah meninggalpun orang tua masih disunahkan mengaqiqohi dengan syarat:
a.   Orang tuanya mampu melakukan aqiqoh (sebelum anak tersebut meninggal dunia), baik meninggal setelah atau sebelum hari ketuju (7) dari kelahiran menurut pendapat Mu’tamad. 
b.  Anak yang meninggal tersebut belum mencapai umur baligh. Karena setelah baligh, yang dianjurkan melakukan aqiqah adalah anak itu sendiri.

Keterangan;
1.   Tarmasyi Juz 4 hal; 706.
2.   Asnal Matholib Juz; 1 hal; 550

ويسن أن يعق عمن مات بعد التمكن من الذبح وان مات قبل السابع اي علي المعتمد (بعد التمكن من الذبح) بخلاف موته قبل التمكن من الذبح لا يسن العق عنه.

Disunatkan mengaqiqohi anak yang telah wafat (setelah lahir) jika orang tuanya mampu mengaqiqohinya (sebelum wafat), meskipun wafatnya anak tersebut sebelum hari ketuju (7) dari kelahiran menurut Qoul Mutamad, berbeda dengan meninggalnya anak sebelum orang tua mampu untuk melakukan akikoh
.
(وَلَا تَفُوتُ عَلَى الْوَلِيِّ) الْمُوسِرِ بِهَا (حَتَّى يَبْلُغَ) الْوَلَدُ (فَإِنْ بَلَغَ فَحَسَنٌ أَنْ يَعُقَّ عَنْ نَفْسِهِ).

Dan kesunahan itu tidak hilang bagi seorang wali yang mampu (kaya), sampai anak menginjak baligh. Seandainya sudah baligh, maka akan baik dia mengaqiqohi dirinya sendiri”


Tidak ada komentar:

Posting Komentar